Home > Ren's Notes > Kisah sang Keledai dan Tuannya

Kisah sang Keledai dan Tuannya

December 28, 2012 Leave a comment Go to comments

Alkisah seorang Ayah dan anaknya pergi mengembara ke beberapa kota dengan membawa serta keledainya. Saat memasuki kota pertama sang Ayah menaiki keledai dan anaknya berjalan disampingnya, disepanjang jalan warga di kota pertama tersebut berkomentar “wah dasar ayah yang kejam, dia membiarkan anaknya berjalan sementara dia menaiki keledai”. Kemudian Ayah, anak dan keledainya memasuki kota kedua. Sang Anak gantian menaiki keledai dan sang ayah berjalan disampingnya. Tak berapa lama orang disekitar ramai berkomentar “wah dasar anak yang tak berbakti, ayahnya berjalan dan dia sendiri malah menaiki keledai”. Kemudian rombongan itu masuk ke kota ketiga. Di kota ketiga ini sang Ayah dan anak sama-sama menaiki keledainya, dan orang disekitarpun ramai berkomentar “malang sekali keledai ini, harus dinaiki oleh ayah dan anak”. Sampailah rombongan ini ke kota keempat, keledai dibiarkan berjalan sendiri, sedang sang Ayah dan anaknya berjalan disampingnya. Orangpun tetap ramai berkomentar “Ayah dan anak yang bodoh, punya keledai kok tidak dinaiki”. Begitulah sampai di kota kelima sang Ayah dan anak tersebut menjual keledainya saja hehehe (yang ini tambahan aja).

 

Kisah sang Keledai dan Tuannya

Kisah sang Keledai dan Tuannya

Pernah mengalami situasi seperti diatas? Aku rasa hampir semua orang pernah merasakan situasi seperti diatas. Situasi dimana seperti makan buah simalakama, ambil pilihan pertama salah, kedua juga salah. Tapi apa benar itu salah? Atau cuman komentar orang saja? Nahhhh

People tend to comment according to his/her way of thinking and it depends on the environment where he/she grow and education that they have. They tend to see people do something like they want, to hear what they wanna hear, and to assume what they think is the rightest thing to do.

Ahhh nabi, jadi inget betapa Rasulullah diperlakukan tidak adil oleh umatnya, tapi beliau masih sangat menghargai mereka, bahkan beliau masih selalu bersikap baik kepada mereka. Rasulullah yang menyuapi orang tua buta yang tiap hari menghinanya, Rasulullah yang menyayangi sahabat-sahabatnya, Rasulullah yang selalu di hina, Rasulullah yang selalu disebut orang gila. Biarlah, karena Allah dan orang-orang yang beriman yang akan melihat pekerjaan kita.

one thing anymore,, pengen rasanya menyenangkan semua orang, but you find it’s impossible. So it’s your life, dan kamu sendiri lah yang akan dimintai pertanggungjawaban atas hal-hal yang kamu kerjakan. admit it if you do something wrong, but don’t life in anyone expectation.

Sumber

Categories: Ren's Notes Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: